Spirit Airlines menghadapi penolakan yang signifikan dari wali kebangkrutan AS ketika maskapai tersebut mencoba untuk menjalani reorganisasi Bab 11 yang kedua. Wali amanat saat ini mendesak pengadilan untuk menunda kebangkitan Spirit dari kebangkrutan, dengan alasan bahwa maskapai tersebut telah gagal memberikan transparansi dan justifikasi yang memadai untuk rencana restrukturisasi yang diusulkan.
Perselisihan Inti: Kurangnya Transparansi
Ketegangan utama bukan terletak pada legalitas rencana itu sendiri, namun pada kecukupan informasi yang diberikan kepada kreditor. Wali Amanat AS telah mengemukakan beberapa keprihatinan kritis mengenai pernyataan pengungkapan Spirit:
- Kegagalan untuk menjelaskan kegagalan masa lalu: Spirit bangkit dari kebangkrutan sebelumnya pada 12 Maret 2025, hanya untuk mengajukan Bab 11 lagi dalam waktu enam bulan. Wali amanat berpendapat bahwa Spirit belum cukup menjelaskan mengapa restrukturisasi pertama gagal begitu cepat atau apa yang berubah untuk memastikan upaya kedua ini berhasil.
- Kurangnya alternatif: Maskapai ini belum cukup menunjukkan mengapa rencana mereka saat ini lebih unggul dibandingkan opsi lain, seperti likuidasi total aset atau merger (terutama kesepakatan yang telah dibahas sebelumnya dengan Frontier Airlines).
- Pertanyaan “Nilai”: Karena rencana yang diusulkan melibatkan menghapus semua pemegang saham yang ada dan kreditor tanpa jaminan, wali amanat bersikeras bahwa Spirit harus membuktikan mengapa jalur ini memaksimalkan nilai lebih baik daripada sekadar menjual bagian-bagian perusahaan dan mendistribusikan hasilnya.
Posisi Keuangan yang genting
Pertarungan hukum terjadi pada saat model bisnis fundamental Spirit berada di bawah tekanan ekstrem. Para analis menunjuk pada “badai sempurna” berupa kenaikan biaya dan berkurangnya sumber daya yang mengancam kelangsungan hidup maskapai tersebut.
Faktor Bahan Bakar
Menurut analis JP Morgan Jamie Baker, Spirit sangat rentan terhadap fluktuasi pasar energi. Jika harga bahan bakar jet tetap berada di sekitar $4,60 per galon hingga sisa tahun ini, margin operasi Spirit dapat anjlok dari negatif 7% menjadi negatif 20%. Ini berarti tambahan biaya bahan bakar sebesar $360 juta.
Likuiditas Menipis
Penyangga keuangan Spirit menipis dengan cepat. Dengan saldo kas akhir tahun hanya $337 juta, maskapai ini memiliki sedikit ruang untuk melakukan kesalahan. Sekalipun Spirit berhasil mengumpulkan lebih banyak modal dengan menjual pesawat dan gerbang, rencana reorganisasi akan sulit dipertahankan jika perusahaan beroperasi dengan margin negatif yang sangat besar dan tumpukan uang tunai yang menyusut.
Usulan Rencana Reorganisasi
Untuk menstabilkan, Spirit mengusulkan perampingan operasinya secara signifikan. Elemen kunci dari rencana tersebut meliputi:
- Pengurangan Armada: Mengurangi armada menjadi jauh lebih kecil, hanya 76 hingga 80 pesawat pada kuartal ketiga.
- Pergeseran Ekuitas: Ekuitas baru akan dialokasikan ke pemberi pinjaman DIP (Debtor-in-Possession) “roll-up”, sementara ekuitas yang ada dan klaim umum tanpa jaminan tidak akan menerima apa pun.
Melihat ke Depan
Wali amanat saat ini tidak meminta pengadilan untuk menolak rencana tersebut berdasarkan manfaatnya, melainkan menolak pernyataan pengungkapan. Ini adalah langkah prosedural yang mencegah Spirit memulai proses meminta suara dari kreditor.
Meskipun Spirit diperkirakan akan mengatasi keberatan-keberatan ini untuk menjaga jadwalnya—yang bertujuan untuk konfirmasi pada tanggal 27 Mei dan kemunculannya di awal musim panas—risiko yang mendasarinya tetap ada. Jika kondisi perekonomian memburuk atau harga bahan bakar melonjak, kreditor mungkin akan mempunyai lebih banyak alasan untuk menolak rencana tersebut.
Kesimpulan: Spirit Airlines berupaya untuk “menyusut menuju kesuksesan”, namun perusahaan tersebut harus terlebih dahulu membuktikan kepada kreditor dan pengadilan bahwa upaya restrukturisasi kedua ini pada dasarnya berbeda—dan lebih berkelanjutan—dibandingkan kegagalannya baru-baru ini.























