Dalam sebuah wawancara baru-baru ini yang memicu perdebatan besar dalam komunitas penerbangan, Allen Onyema, CEO maskapai penerbangan Nigeria Air Peace, mengungkapkan kebiasaan bepergian yang sangat tidak biasa: ia mengaku takut terbang, namun menolak terbang dengan maskapai mana pun selain miliknya.
Strategi Boeing 777 “Solo”.
Onyema, yang mendirikan Air Peace pada tahun 2014, menjelaskan bahwa aviofobia yang ia alami sangat kuat sehingga ia menghindari semua operator lain. Untuk mengatasi kecemasan ini, ia menggunakan metode yang boros dan tidak konvensional. Bahkan untuk rute internasional jarak jauh—seperti perjalanan ke Brasil atau Karibia—Onyema sering kali menaiki Boeing 777 dari armadanya sendiri sebagai satu-satunya penumpang.
Meskipun pesawat ini dirancang untuk membawa hingga 400 orang, Onyema bepergian sendirian untuk memastikan rasa amannya. Dia mencatat bahwa meskipun dia sebelumnya mengalami kecemasan yang melemahkan beberapa hari sebelum jadwal penerbangan, ketakutannya telah mereda khususnya saat bepergian dengan pesawat Air Peace.
Masalah Keamanan dan Riwayat Peraturan
Keyakinan CEO terhadap keselamatan maskapai penerbangannya sangat kontras dengan tantangan peraturan yang dihadapi oleh maskapai penerbangan tersebut. Kesenjangan ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai transparansi operasional dan budaya keselamatan maskapai.
Catatan sejarah menunjukkan adanya perselisihan yang signifikan antara Air Peace dan otoritas penerbangan:
– Ketidakpatuhan terhadap Peraturan: Pada tahun 2019, Biro Investigasi Kecelakaan Nigeria menemukan bahwa maskapai tersebut “dengan sengaja gagal mematuhi” peraturan yang ditetapkan.
– Pelaporan Insiden: Biro mencatat kegagalan melaporkan insiden yang mengakibatkan kerusakan struktural pada pesawat.
– Integritas Data: Yang paling memprihatinkan, laporan menunjukkan adanya “penghapusan yang disengaja” pada Perekam Suara Kokpit (CVR) sebelum melaporkan insiden kepada penyelidik.
Temuan ini menunjukkan adanya sejarah masalah sistemik mengenai cara maskapai mengelola data keselamatan dan mematuhi mandat undang-undang.
Konteks: Paradoks Kepercayaan Eksekutif
Situasi ini menghadirkan paradoks yang mencolok. Meskipun ketakutan untuk terbang adalah fenomena psikologis yang umum, hal ini jarang diatasi oleh pemimpin industri melalui penggunaan pesawat jet berbadan lebar dalam jumlah besar dan kurang dimanfaatkan.
Perilaku ini mirip dengan retorika “injil kemakmuran” yang terlihat di beberapa kalangan agama, di mana kekayaan ekstrem dan alat-alat khusus dianggap penting untuk kesejahteraan spiritual atau emosional pribadi. Namun, dalam konteks penerbangan komersial, keputusan untuk menerbangkan pesawat berkapasitas 400 kursi saja bukan semata-mata karena kenyamanan penumpang, melainkan lebih merupakan solusi tunggal dan mahal untuk mengatasi hambatan psikologis pribadi.
Ketegangan utama terletak pada kesenjangan antara rasa aman pribadi CEO terhadap armadanya dan temuan resmi penyelidik penerbangan mengenai protokol keselamatan maskapai.
Kesimpulan
Klaim Allen Onyema untuk terbang sendirian dengan Boeing 777 untuk mengatasi rasa takutnya terbang menyoroti kesenjangan besar antara persepsi eksekutif dan realitas peraturan. Pada akhirnya, preferensinya terhadap maskapai penerbangannya sendiri menjadi pengingat betapa keyakinan pribadinya dapat berbenturan dengan catatan keselamatan dan kepatuhan yang terdokumentasi.
