Di dataran tinggi negara bagian Uttarakhand, India, sebuah revolusi diam-diam sedang terjadi. Meskipun banyak desa di pegunungan menghadapi ancaman ditinggalkan karena generasi mudanya bermigrasi ke kota untuk mencari pekerjaan, sebuah model unik dari pariwisata berbasis komunitas membuktikan bahwa tradisi dan kelangsungan ekonomi dapat berjalan beriringan.
Melalui usaha sosial Village Ways, masyarakat pedesaan di wilayah Kumaon mengubah lanskap leluhur mereka menjadi destinasi pejalan kaki yang berkelanjutan, memastikan bahwa desa mereka tetap layak huni, dinamis, dan layak secara ekonomi.
Tantangan: Pengungsian dari Pedesaan dan Hilangnya Desa
Selama beberapa dekade, kaki bukit Himalaya telah menghadapi krisis demografi. Ketika mata pencaharian lokal semakin sulit untuk dipertahankan, banyak keluarga yang pindah ke pusat kota, meninggalkan reruntuhan batu dan populasi yang menua. “Brain drain” ini tidak hanya menguras tenaga kerja; hal ini mengikis tatanan budaya daerah tersebut.
Inisiatif yang dipimpin oleh Village Ways—yang didirikan pada tahun 2005 oleh Himanshu dan Manisha Pande—menangani masalah ini secara langsung dengan menciptakan model pariwisata “berdampak rendah”. Berbeda dengan pariwisata massal, yang dapat membebani infrastruktur lokal dan merusak lingkungan, proyek ini berfokus pada:
– Wisata kelompok kecil: Membatasi tamu menjadi lima atau enam orang sekaligus untuk melindungi lanskap.
– Kepemilikan lokal: Wisma dibangun, dimiliki, dan dikelola oleh penduduk desa sendiri.
– Bagi hasil: Pendapatan didistribusikan melalui Komite Pariwisata Desa, memastikan bahwa setiap rumah tangga mendapatkan manfaat dari kehadiran wisatawan.
Model Pembangunan Berkelanjutan
Dampak model ini terlihat di desa-desa seperti Kathdhara dan Gonap. Di daerah-daerah yang dulunya populasinya menyusut, masuknya pariwisata memberikan alasan untuk tetap tinggal.
“Awalnya, penduduk desa enggan… mereka tidak pernah mengira wisatawan akan datang ke sini,” kata Deepak Joshi, seorang pelatih pemandu senior. “Tetapi pendapatan dari proyek ini sebenarnya memungkinkan mereka untuk bertahan.”
Stabilitas ekonomi ini didukung oleh pelatihan profesional. Penduduk desa bukan hanya sekedar tuan rumah; mereka dilatih sebagai pemandu profesional, ahli keselamatan, dan manajer sanitasi. Profesionalisasi ini juga menjembatani kesenjangan gender yang signifikan: Village Ways melaporkan kesenjangan pekerjaan yang hampir merata, dengan 49% dari 470 anggotanya adalah perempuan. Hal ini memberdayakan perempuan untuk berpartisipasi dalam perekonomian lokal sambil mempertahankan peran tradisional dan ikatan komunitas mereka.
Berjalan Melalui Sejarah dan Alam
Pengalaman pariwisata bertumpu pada Khali Estate, sebuah properti bersejarah yang terletak di dalam Binsar Wildlife Sanctuary. Perkebunan ini menawarkan jembatan antara masa lalu kawasan yang kompleks dan masa depan yang berkelanjutan:
- Konteks Sejarah: Awalnya merupakan tempat perlindungan kolonial yang dibangun oleh Jenderal Sir Henry Ramsay pada abad ke-19, kawasan ini memiliki warisan berat pemerintahan Inggris. Namun, misi saat ini berupaya untuk membangun infrastruktur (sekolah dan rumah sakit) yang dibangun pada era tersebut untuk mendorong kemandirian modern.
- Keanekaragaman hayati: Suaka ini berfungsi sebagai koridor penting bagi lebih dari 200 spesies burung, macan tutul, dan babi hutan. Rute berjalan kaki melalui hutan rhododendron dan ek memungkinkan wisatawan untuk merasakan keanekaragaman hayati ini tanpa mengganggu ekosistem yang rapuh.
Hubungan Manusia
Selain ekonomi dan ekologi, nilai sebenarnya dari inisiatif ini terletak pada pelestarian budaya. Dengan mengundang wisatawan ke rumah mereka untuk menikmati makanan tradisional—seperti thali yang menyajikan chutney lokal bhang ki —penduduk desa berbagi cara hidup mereka dan bukan sekadar melakukannya demi keuntungan.
Proyek ini bahkan menunjukkan adanya tren pasca-pandemi di mana generasi muda kembali ke kehidupan pedesaan, karena adanya peluang kerja baru yang diciptakan oleh rangkaian liburan jalan kaki.
Kesimpulan
Dengan mengalihkan fokus dari konsumsi massal ke pemberdayaan masyarakat, Village Ways menunjukkan bahwa pariwisata dapat menjadi alat konservasi dan bukan alat perusakan. Model ini memberikan cetak biru bagaimana daerah-daerah terpencil dapat merangkul dunia modern tanpa kehilangan jiwa mereka.
