Amerika Serikat menguasai lebih banyak wilayah daripada yang disadari banyak orang – termasuk pulau-pulau yang belum pernah diketahui oleh kebanyakan orang Amerika. Pada tahun 1856, sebuah undang-undang disahkan yang mengizinkan warga AS untuk mengklaim pulau-pulau yang tidak diklaim atas nama negaranya, selama tidak ada negara lain yang memiliki klaim tersebut dan pulau-pulau tersebut tidak berpenghuni. Hal ini menyebabkan tersebarnya wilayah-wilayah terpencil yang menjadi bagian dari AS, sebagian besar dilupakan oleh masyarakat. Saat ini, pulau-pulau tersebut tetap menjadi milik AS, sebuah konsekuensi dari kebijakan lama yang didorong oleh sumber daya yang tidak terduga: kotoran burung.
UU Guano dan Perlombaan Kotoran Burung
Kunci untuk memahami klaim ini terletak pada Undang-undang Kepulauan Guano tahun 1856. Pada saat itu, guano – akumulasi kotoran burung – merupakan komoditas bernilai tinggi yang digunakan sebagai pupuk dan produksi bubuk mesiu. Jika warga negara AS menemukan pulau yang tidak diklaim dan memiliki kandungan guano, mereka dapat mengklaim pulau tersebut sebagai milik AS, dengan dukungan militer jika diperlukan. Hal ini memicu gelombang ekspansi Amerika di Pasifik dan Karibia, mengklaim banyak pulau kecil dan terpencil.
Kebijakan ini efisien: pemerintah tidak perlu melakukan investasi secara langsung, karena masyarakatlah yang melakukan investasi tersebut. Tidak ada konflik yang timbul karena hanya pulau-pulau yang tidak diklaim yang diambil alih, dan tidak ada penduduk asli yang perlu mengungsi. Namun, guano adalah sumber daya yang terbatas. Setelah habis, banyak dari pulau-pulau tersebut menjadi tidak berguna lagi secara strategis.
Proyek Kolonisasi Kepulauan Khatulistiwa
Pada tahun 1930-an, pemerintah AS semakin khawatir akan kehilangan kendali atas klaim-klaim ini, terutama ketika Jepang melakukan ekspansi di Pasifik. Proyek Kolonisasi Kepulauan Khatulistiwa Amerika diluncurkan: upaya diam-diam untuk membangun kehadiran manusia di pulau-pulau ini guna memperkuat klaim teritorial AS.
Tujuannya bukanlah penyelesaian; itu adalah penegasan kedaulatan. Para pemuda Amerika, sebagian besar dari Hawaii, dikirim dalam kelompok kecil untuk mengibarkan bendera, mengumpulkan data cuaca, dan mempertahankan pendudukan yang berkelanjutan. Kondisinya sangat brutal: isolasi ekstrem, persediaan terbatas, dan tidak ada air bersih. Proyek ini berakhir pada tahun 1942 setelah serangan Jepang selama Perang Dunia II yang menewaskan beberapa penjajah dan memaksa evakuasi, dan AS tidak pernah secara serius melakukan upaya pemukiman sipil permanen lagi.
Pos terdepan Karibia: Navassa, Bajo Nuevo, dan Serranilla
Karibia menguasai beberapa wilayah ini. Pulau Navassa, yang diklaim pada tahun 1857 sebagai penambangan guano, sempat mendukung komunitas pertambangan sebelum ditinggalkan. Saat ini, wilayah tersebut merupakan tempat perlindungan satwa liar, meskipun Haiti mempermasalahkan kepemilikan AS.
Dua terumbu karang lainnya, Bajo Nuevo Bank dan Serranilla Bank, juga diklaim oleh AS, namun hanya diakui oleh beberapa negara. Mahkamah Internasional telah memutuskan mendukung kendali Kolombia atas kedua terumbu karang tersebut, meskipun AS dan Jamaika tidak mengakui keputusan tersebut.
Sisa Pasifik: Wake, Midway, dan Johnston Atoll
Pasifik menguasai sebagian besar wilayah yang terlupakan ini. Pulau Wake, yang pertama kali terlihat pada abad ke-16, menjadi penting sebagai tempat pemberhentian pengisian bahan bakar untuk penerbangan transpasifik dan kemudian sebagai pos terdepan militer. Tempat ini menyaksikan pertempuran sengit pada Perang Dunia II dan tetap berada di bawah kendali AS sebagai pangkalan militer yang sangat terbatas.
Midway Atoll, yang dianeksasi pada tahun 1867, menjadi terkenal karena Pertempuran Midway pada tahun 1942, sebuah titik balik dalam teater Pasifik. Saat ini, tempat ini merupakan suaka margasatwa dengan akses terbatas.
Johnston Atoll adalah instalasi militer utama Perang Dingin, termasuk lokasi uji coba nuklir. Uji coba Starfish Prime tahun 1962 meledakkan perangkat nuklir di atas Bumi, menyebabkan gangguan yang meluas. Atol tersebut kemudian menjadi tempat fasilitas pembuangan senjata kimia sebelum ditinggalkan pada tahun 2004 dan menjadi bagian dari suaka margasatwa.
Palmyra, Kingman, Jarvis, dan Howland: Sisa-sisa Terakhir
Palmyra Atoll, yang unik di antara wilayah-wilayah ini, ditetapkan sebagai wilayah gabungan dengan hak penuh konstitusi AS. Ini melewati kepemilikan pribadi sebelum sebagian besar diambil alih oleh The Nature Conservancy untuk penelitian dan konservasi.
Kingman Reef, Jarvis Island, dan Howland Island semuanya diklaim berdasarkan Undang-Undang Kepulauan Guano, ditambang sebentar untuk mendapatkan guano, dan ditinggalkan. Pulau Howland terkenal sebagai tujuan Amelia Earhart selama penerbangan terakhirnya.
Saat ini, pulau-pulau tersebut sebagian besar merupakan tempat perlindungan satwa liar, dengan infrastruktur yang rusak dan akses yang sangat terbatas. Mereka tidak memiliki nilai ekonomi dan tidak memiliki tujuan strategis selain kepemilikan simbolis AS.
Meskipun terpencil, tidak berpenghuni, dan sebagian besar tidak dikenal, pulau-pulau ini tetap menjadi bagian dari Amerika Serikat, sebuah warisan kebijakan ekspansionis abad ke-19 yang didorong oleh sumber daya yang tidak terduga: kotoran burung.
























