Sebuah insiden baru-baru ini pada penerbangan Batik Air menyebabkan kursi penumpang di baris pintu keluar tiba-tiba terjatuh ke belakang saat pendakian awal setelah lepas landas. Meskipun tidak ada korban luka serius yang dilaporkan, kejadian ini menyoroti potensi masalah keselamatan bagi maskapai tersebut, yang memiliki riwayat masalah operasional terkait dengan perusahaan induknya, Lion Air.

Kegagalan Mekanisme Kursi

Kursi yang dimaksud, tempat duduk pelatih standar, dilipat rata ke dalam barisan di belakangnya. Penyelidik menduga kegagalan tersebut berasal dari sambungan jalur kursi yang rusak atau cacat struktural yang memungkinkan rakitan kursi terlepas karena tekanan lepas landas. Penyebab umum termasuk pengencang yang tidak terpasang dengan benar, baut yang hilang, atau mekanisme penguncian yang tidak berfungsi.

Keruntuhan seperti ini bukan saja tidak nyaman; itu berbahaya. Pergerakan yang tiba-tiba dapat melukai penumpang, menonaktifkan sabuk pengaman, dan menghalangi akses pintu keluar darurat—risiko penting saat lepas landas, di mana prosedur evakuasi merupakan hal yang paling mendesak.

Sejarah Batik Air yang Bermasalah

Batik Air didirikan sebagai anak perusahaan Lion Air, maskapai penerbangan Indonesia yang terkenal karena jatuhnya Boeing 737 MAX 8 pada tahun 2018. Investigasi mengungkapkan kegagalan sistemik dalam pemeliharaan dan pelatihan pilot. Sensor sudut serang yang penting salah dikalibrasi karena perbaikan yang dilakukan oleh pihak luar, dan awak penerbangan sebelumnya gagal mendokumentasikan tanda-tanda peringatan penting, termasuk kejadian trim hidung ke bawah yang tidak diperintahkan.

Baru-baru ini, dalam penerbangan Batik Air, kedua pilot tertidur di kokpit, menyebabkan pesawat menyimpang dari jalurnya sebelum jatuh ke pengatur lalu lintas udara. Insiden-insiden ini, ditambah dengan jatuhnya kursi terbaru, menimbulkan pertanyaan tentang standar keselamatan maskapai.

Mengapa Ini Penting

Insiden ini menggarisbawahi bagaimana maskapai penerbangan gagal belajar dari kesalahan masa lalu. Jika catatan pemeliharaan tidak lengkap, atau jika perbaikan dilakukan oleh pihak luar tanpa pengawasan yang tepat, masalah yang tampaknya kecil sekalipun dapat meningkat menjadi situasi yang mengancam jiwa. Kurangnya transparansi dan dokumentasi yang tepat merupakan masalah yang sering terjadi dalam kecelakaan penerbangan.

“Situasi yang tidak biasa dapat terjadi pada maskapai penerbangan mana pun, namun pola kegagalan di Batik Air dan Lion Air Group memerlukan peningkatan pengawasan.”

Penumpang harus menyadari risiko ini ketika memilih maskapai penerbangan. Meskipun kegagalan mekanis yang terjadi sesekali tidak dapat dihindari, riwayat kelalaian sistemik memerlukan kehati-hatian. Runtuhnya kursi menjadi pengingat bahwa keselamatan bukan hanya soal peralatan; ini tentang budaya, pelatihan, dan akuntabilitas.