Sri Lanka secara proaktif mendekati maskapai penerbangan besar Timur Tengah, termasuk Emirates dan Qatar Airways, untuk menggunakan Bandara Internasional Mattala Rajapaksa (HRI) sebagai hub sementara di tengah konflik yang sedang berlangsung di kawasan Teluk. Langkah ini dilakukan ketika maskapai penerbangan menghadapi gangguan akibat ketidakstabilan geopolitik, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang ketahanan operasional jangka panjang.

Alasan Dibalik Proposal

Selama bertahun-tahun, Emirates dan Qatar Airways telah berhasil menghubungkan penumpang lintas benua, memanfaatkan keamanan dan stabilitas di wilayah asal mereka. Namun, eskalasi yang terjadi baru-baru ini di Timur Tengah – termasuk ancaman rudal dan penutupan wilayah udara – telah sering memaksa penghentian operasional. Hal ini jelas memberikan tantangan terhadap kelangsungan bisnis, sehingga mendorong maskapai penerbangan untuk mencari solusi alternatif.

Proposal Sri Lanka berpusat pada HRI, sebuah bandara senilai $1 miliar yang dibuka pada tahun 2013 namun sebagian besar masih belum digunakan, sehingga dijuluki sebagai “bandara hantu”. Kurangnya pemanfaatan bandara menghadirkan peluang yang tidak biasa: kapasitas yang signifikan dengan permintaan yang minimal saat ini. Lokasinya yang strategis di sepanjang koridor udara utama Samudera Hindia, menawarkan alternatif yang layak dibandingkan rute-rute yang terganggu.

Mengapa Sekarang? Konteks Geopolitik

Waktunya sejalan dengan meningkatnya ketidakpastian di Timur Tengah. Maskapai penerbangan saat ini tampaknya beroperasi dengan asumsi bahwa gangguan hanya akan terjadi dalam waktu singkat, namun potensi konflik yang berkepanjangan akan meningkatkan risikonya. Jika situasi ini terus berlanjut selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun, maskapai penerbangan mungkin terpaksa menerapkan rencana darurat yang lebih permanen.

Sri Lanka berharap hal ini dapat merevitalisasi perekonomiannya, yang menderita akibat menurunnya pariwisata akibat pembatalan penerbangan karena ketidakstabilan regional. Pemerintah mengklaim Emirates dan Qatar Airways telah menyatakan “ketertarikan yang kuat,” meskipun seberapa besar minat tersebut masih belum jelas.

Rintangan Operasional dan Kelangsungan Jangka Panjang

Meskipun bandara ini dapat menampung pesawat besar (termasuk A380), peralihan HRI menjadi hub yang fungsional memerlukan investasi logistik yang besar. Hal ini mencakup peralatan darat, katering, akomodasi, dan pelatihan staf – yang semuanya memerlukan waktu dan sumber daya.

Proposal ini bukanlah hal yang belum pernah terjadi sebelumnya; Qatar Airways telah mengoperasikan penerbangan point-to-point melewati Doha selama gangguan puncak. Namun, skala operasi hub yang direlokasi sepenuhnya adalah masalah yang berbeda. Kelangsungan hidup jangka panjang bergantung pada apakah maskapai penerbangan memandang krisis Timur Tengah sebagai krisis sementara atau struktural.

Kesimpulan: Tawaran Sri Lanka mewakili respons pragmatis terhadap ketidakstabilan regional, dengan memanfaatkan aset yang kurang dimanfaatkan untuk menarik maskapai penerbangan besar. Meskipun tantangan logistik masih ada, potensi manfaatnya bagi kedua belah pihak – ketahanan operasional bagi maskapai penerbangan dan stimulus ekonomi untuk Sri Lanka – menjadikan hal ini sebagai perkembangan penting dalam lanskap penerbangan yang terus berkembang.