Pada tahun 1805, di lepas pantai Spanyol, Pertempuran Trafalgar mengubah dinamika kekuatan Eropa dan mengokohkan supremasi angkatan laut Inggris selama lebih dari satu abad. Bentrokan yang menentukan antara armada Inggris dan Perancis-Spanyol bukan hanya kemenangan militer; ini adalah titik balik yang secara dramatis mengubah jalannya Perang Napoleon dan seterusnya.
Jalan Menuju Trafalgar: Ambisi Napoleon dan Respon Inggris
Pada awal tahun 1800-an, Napoleon Bonaparte bermaksud menyerang Inggris atau melumpuhkan perdagangannya. Keduanya diperlukan untuk mengatasi Angkatan Laut Kerajaan, yang menguasai lautan dan melindungi perdagangan dan koloni Inggris. Rencana awalnya—menyerang Kepulauan Inggris dari Boulogne—gagal karena blokade Angkatan Laut Kerajaan.
Napoleon kemudian menyusun strategi rumit untuk menarik kapal-kapal Inggris menjauh dari Selat Inggris, sehingga armada gabungannya dengan Spanyol dapat mengambil alih kendali untuk sementara waktu. Hal ini bergantung pada Laksamana Pierre-Charles Villeneuve, yang dengan enggan setuju untuk berlayar dari Cádiz meskipun Napoleon semakin tidak sabar dan ada ancaman akan adanya pengganti. Rencana invasi akhirnya dibatalkan ketika Napoleon mengalihkan fokusnya ke timur menuju Austria dan Rusia.
Horatio Nelson: Arsitek Kemenangan
Wakil Laksamana Lord Horatio Nelson, seorang pahlawan angkatan laut Inggris, berperan penting dalam kemenangan ini. Naik pangkat dengan reputasi keberanian dan pengorbanan, ia kehilangan mata dan lengannya dalam pertempuran sebelumnya namun terus memimpin dengan agresi yang tak tergoyahkan. Kemenangannya dalam Pertempuran Sungai Nil pada tahun 1798 telah menjadikannya sebagai seorang jenius dalam strategi, memotong pasukan Napoleon di Mesir.
Kepemimpinan Nelson unik: ia menginspirasi kesetiaan melalui keberanian pribadi dan taktik yang tidak biasa. Dia dikenal karena mengabaikan perintah ketika dia yakin hal itu perlu, yang paling terkenal adalah pada Pertempuran Kopenhagen pada tahun 1801, di mana dia terus maju meskipun ada sinyal untuk melepaskan diri.
Ships of the Line: Kapal Perang di Eranya
Pertempuran tersebut menampilkan “ships of the line” – kapal perang kayu besar dengan banyak dek senjata. Kapal-kapal ini, dipersenjatai dengan puluhan meriam, merupakan kekuatan angkatan laut yang dominan pada saat itu. Kapal yang lebih kecil seperti fregat memang ada, tetapi tidak memiliki daya tembak untuk terlibat dalam pertempuran langsung.
Kapal-kapal perang dikategorikan berdasarkan jumlah senjata yang mereka bawa, dengan kapal dengan 74 senjata menjadi keseimbangan umum antara daya tembak dan biaya. Kapal kelas satu yang lebih besar dengan 100+ senjata berfungsi sebagai andalan. Kapal-kapal besar ini membutuhkan ratusan awak kapal dan mahal untuk dibangun dan dipelihara.
Pertempuran Terjadi: Taktik Berani Nelson
Pada tanggal 21 Oktober 1805, armada Inggris yang terdiri dari 27 kapal berhadapan dengan armada gabungan Perancis-Spanyol yang berjumlah 33 kapal. Nelson meninggalkan garis pertempuran paralel tradisional, malah membagi armadanya menjadi dua kolom untuk mematahkan garis musuh secara tegak lurus.
Manuver berisiko tinggi ini membuat kapalnya terkena kerusakan awal, namun Nelson mengandalkan keunggulan meriam dan kemampuan pelayaran Inggris untuk bertahan setelah garis pertahanan diputus. Sebelum pertempuran, Nelson memberi isyarat yang terkenal: “Inggris mengharapkan setiap orang akan melakukan tugasnya.”
Pertempuran berlangsung dengan cepat. Kolom utara Nelson yang dipimpin oleh HMS Victory, dan kolom selatan Wakil Laksamana Collingwood di HMS Royal Sovereign, menerobos garis musuh sekitar tengah hari. Kru Inggris menembak lebih cepat dan akurat, melumpuhkan atau menangkap kapal demi kapal.
Pengorbanan Nelson dan Dampaknya
Tragisnya, Nelson terkena peluru senapan dan tewas dalam pertempuran tersebut, sambil berkata, “Syukurlah saya telah melakukan tugas saya.” Meski tewas, Inggris menangkap atau menghancurkan 22 kapal musuh tanpa kehilangan satu kapal pun. Villeneuve ditangkap tetapi kemudian bunuh diri.
Konsekuensinya sangat besar. Prancis tidak bisa lagi mengancam invasi ke Inggris. Dominasi angkatan laut Inggris bertahan selama lebih dari satu abad, memungkinkan perdagangan, ekspansi kolonial, dan penegakan blokade terhadap Perancis. Inovasi taktis Nelson mempengaruhi doktrin angkatan laut selama beberapa generasi.
Warisan yang Ditempa dalam Api
Pertempuran Trafalgar bukan hanya kemenangan militer; hal ini membentuk kembali kekuatan global. Dengan mengamankan supremasi angkatan laut Inggris, hal ini memaksa Napoleon untuk mengubah strateginya, yang pada akhirnya menyebabkan kejatuhannya. Bagi Prancis, ini berarti akhir dari segala tantangan serius terhadap kendali Inggris atas lautan. Spanyol, yang tidak mampu membangun kembali armadanya, kehilangan kemampuannya untuk melindungi koloninya di Amerika, sehingga membuka jalan bagi kemerdekaan Amerika Latin. Trafalgar tetap menjadi landasan identitas nasional Inggris, sebuah pengingat akan hari dimana Inggris mengukuhkan posisinya sebagai negara adidaya global.
